Lu pasti bakal familier bgt
sama judul artikel ini.....
Ya,,, "Take Me Out"
ini adalah sebuah reality show yang tergolong lama di salah satu televisi Indonesia. Ketika gw ngeluangin waktu untuk nyimak acara ini, kata pertama yang muncul dari dalam hati gw adalah :
Ya,,, "Take Me Out"
ini adalah sebuah reality show yang tergolong lama di salah satu televisi Indonesia. Ketika gw ngeluangin waktu untuk nyimak acara ini, kata pertama yang muncul dari dalam hati gw adalah :
" Oh my God !!!
This is pathetic "
buat lu yang belum tau, ada baiknya gw ceritain sedikit tentang konsep acara ini.
Take Me Out mengambil konsep mirip dengan Indonesian Idol, di mana seorang kontestan akan dipilih apakah akan lolos ke babak selanjutnya atau tidak. Bedanya, di reality show Take Me Out, bukan penonton yang memutuskan apakah sang kontestan menang atau tidak, melainkan sekumpulan wanita. Hadiahnya bukan berupa kontrak album atau si kontestan menjadi penyanyi. Hadiahnya adalah si kontestan bisa menjadi pacar dari salah satu wanita-wanita diatas.
gw jelasin lebih detail lagi.
buat lu yang belum tau, ada baiknya gw ceritain sedikit tentang konsep acara ini.
Take Me Out mengambil konsep mirip dengan Indonesian Idol, di mana seorang kontestan akan dipilih apakah akan lolos ke babak selanjutnya atau tidak. Bedanya, di reality show Take Me Out, bukan penonton yang memutuskan apakah sang kontestan menang atau tidak, melainkan sekumpulan wanita. Hadiahnya bukan berupa kontrak album atau si kontestan menjadi penyanyi. Hadiahnya adalah si kontestan bisa menjadi pacar dari salah satu wanita-wanita diatas.
gw jelasin lebih detail lagi.
Tidak seperti reality
show yang berlangsung di jalanan / rumah / atau setting publik lainnya, “Take
Me Out” diadakan di sebuah panggung yang besar. Sekitar dua puluh orang wanita
dikumpulkan dan berdiri terpisah. Masing-masing dengan tombol ditangannya. Kita
sebut saja mereka sebagai “Pemilih”. Kemudian sang pembawa acara memanggil
seorang pria untuk keluar dan berdiri di tengah-tengah panggung, diantara para
wanita Pemilih tadi. Kita sebut saja pria ini sebagai “Option” atau pilihan.
Dan babak pertama dimulai.
Di babak pertama ini, si pria kemudian diminta untuk memperkenalkan dirinya secara detail dan menyeluruh. Babak pertama usai ketika para Pemilih menekan tombol mereka; apakah mereka menginginkan pria tersebut atau tidak. Jika mereka tidak mau, maka mereka cukup menekan tombol saja.
Babak kedua akan dimulai jika ternyata dari antara dua puluh wanita tersebut ada yang berbaik hati untuk tidak menekan tombol. Di babak kedua ini, kontestan diminta untuk menunjukkan kebolehannya atau keunggulannya. Dan kemudian, saatnya eliminasi lagi. Para wanita diberikan kesempatan untuk memilih apakah mereka menginginkan pria ini terus maju ke babak selanjutnya atau tidak..
Show ini selesai ketika kontestan mampu bertahan dari eliminasi dari para wanita dan berhasil dipilih oleh salah satu dari dua puluh wanita pemilih tersebut.
Dan babak pertama dimulai.
Di babak pertama ini, si pria kemudian diminta untuk memperkenalkan dirinya secara detail dan menyeluruh. Babak pertama usai ketika para Pemilih menekan tombol mereka; apakah mereka menginginkan pria tersebut atau tidak. Jika mereka tidak mau, maka mereka cukup menekan tombol saja.
Babak kedua akan dimulai jika ternyata dari antara dua puluh wanita tersebut ada yang berbaik hati untuk tidak menekan tombol. Di babak kedua ini, kontestan diminta untuk menunjukkan kebolehannya atau keunggulannya. Dan kemudian, saatnya eliminasi lagi. Para wanita diberikan kesempatan untuk memilih apakah mereka menginginkan pria ini terus maju ke babak selanjutnya atau tidak..
Show ini selesai ketika kontestan mampu bertahan dari eliminasi dari para wanita dan berhasil dipilih oleh salah satu dari dua puluh wanita pemilih tersebut.
So apa yg mesti gw bahas ???
Jawabannya sangat simple.
Jawabannya sangat simple.
Gw pengen kita sadar bahwa
show-show seperti inilah yang dengan mudah merusak paragdima dan mindset kita
tentang hubungan pria dan wanita.
Di show ini, sang kontestan sama sekali tidak punya kesempatan untuk memilih. Apakah si kontestan akan merasa senang atau sedih, kalah atau menang, semuanya ditentukan oleh dua puluh wanita di atas panggung.
Salah satu paragdima yang merusak dan menjadikan kita kesulitan dalam berhubungan dengan seseorang adalah konsep Option atau Pilihan.
gw pengen lu merefleksikan kehidupan romansa lu selama ini, apakah selama ini lu memiliki Option? Atau selama ini lu yang jadi Option? Apakah selama ini lu dapat memilih seseorang yang akan menjadi pasangan lu, atau sebaliknya, lu malah menjadi pilihan yang dapat dieliminasi pasangan lu?
Di show ini, sang kontestan sama sekali tidak punya kesempatan untuk memilih. Apakah si kontestan akan merasa senang atau sedih, kalah atau menang, semuanya ditentukan oleh dua puluh wanita di atas panggung.
Salah satu paragdima yang merusak dan menjadikan kita kesulitan dalam berhubungan dengan seseorang adalah konsep Option atau Pilihan.
gw pengen lu merefleksikan kehidupan romansa lu selama ini, apakah selama ini lu memiliki Option? Atau selama ini lu yang jadi Option? Apakah selama ini lu dapat memilih seseorang yang akan menjadi pasangan lu, atau sebaliknya, lu malah menjadi pilihan yang dapat dieliminasi pasangan lu?
Mungkin fikiran kita
sekarang “Hey…! Tidak ada yang salah dengan menjadi Option, karena itu berarti
paling tidak gw punya kesempatan untuk dipilih.”
Kalo lu berpikir menjadi Option lebih baik DARI PADA
tidak menjadi Option sama sekali, well... itu sih terserah…. Tapi
pertanyaannya: apakah lu pengen terus dan terus berharap agar si DIA
milih lu ??? Apakah lu mau terus nunggu agar akhirnya lu bisa
mengalahkan Option-Option lainnya dan berhasil menjadi Option utama ???
Selama kita masih memegang konsep bahwa kita adalah sebuah Pilihan, maka selama-lamanya kita hanya akan menjadi Pilihan. Sebuah Pilihan yang bisa diggantikan dengan mudah oleh pilihan lainnya. Sebuah pilihan yang berarti bisa untuk TIDAK dipilih.
gw kasih sebuah anologi…...
Apakah lu suka bermain game?
Dalam setiap game selalu ada menu OPTION. Di dalam Option lu bisa memilih karakter. lu juga bisa memilih setting suara, tampilan, tingkat kesulitan, bahasa, konfigurasi tombol, dan lain-lain. Sekarang bayangkan jika kita bermain sebuah game, dan ketika kita ingin memilih karakter, ternyata tidak terdapat menu option!
Selama kita masih memegang konsep bahwa kita adalah sebuah Pilihan, maka selama-lamanya kita hanya akan menjadi Pilihan. Sebuah Pilihan yang bisa diggantikan dengan mudah oleh pilihan lainnya. Sebuah pilihan yang berarti bisa untuk TIDAK dipilih.
gw kasih sebuah anologi…...
Apakah lu suka bermain game?
Dalam setiap game selalu ada menu OPTION. Di dalam Option lu bisa memilih karakter. lu juga bisa memilih setting suara, tampilan, tingkat kesulitan, bahasa, konfigurasi tombol, dan lain-lain. Sekarang bayangkan jika kita bermain sebuah game, dan ketika kita ingin memilih karakter, ternyata tidak terdapat menu option!
Atau apakah lu pernah ke Rumah Makan padang ? Di depan lu tersaji puluhan jenis makanan, Dan lu bisa memilih dengan bebas. Sekarang coba bayangkan saat lu berada di Rumah Makan Padang, ternyata di depan lu cuma ada satu menu saja “rendang balado “
Mana yang lebih menarik ???
Game dengan Option, dan restoran dengan berbagai menu
Atau,
Game tanpa Option, dan restoran dengan satu menu saja
kita harus sadar, bahwa selama ini kita hidup dengan berbagai pilihan. kita memiliki hak untuk memilih apa yang terbaik untuk kita. Sekali lagi, kita BERHAK untuk memilih !!!
Apakah kita ingin makan atau tidak ? Apakah kita ingin pergi nonton atau clubing ? Apakah kita ingin terus tidur atau pergi ke kantor ? Apakah kita ingin menabung atau ingin menghabiskan gaji kita ? Apakah kita ingin diam di rumah di malam minggu atau keluar dan hang out bareng teman – teman ?
kita SELALU memiliki pilihan. Pilihan, dan begitu banyak pilihan setiap saat berada di depan kita.
Pertanyaan gw kali ini adalah “ Tapi kenapa ketika berhubungan dengan seseorang, kita berubah menjadi tidak punya pilihan ? kayanya kita ga lagi memiliki Option atau Jalan lain ?Kenapa ketika berhubungan dengan seseorang, kita MEMILIH untuk menjadi pilihan dan bukannya memiliki pilihan? Mengapa kita puas hanya menunggu dipilih dan bukannya malah memilih ??
Coba bayangin kejadian ini terjadi pada kita :
Hari ini hari rabu dan beberapa hari lagi kita bakal nemuin malam Minggu. Kita pengen banget nonton film, dan kita pengen ngajak seseorang. So… kita cek phone book di HP or Contact BBM.
Hmm.. paling tidak ada tiga orang yang bisa kita ajak. Dan kita harus memilih
siapa orang yang beruntung untuk diajak nonton dan dinner. Si “A” “B” atau “C”.
Pilihan akhirnya jatuh pada si “ B “, karena si A meskipun Asik tapi sudah terjangkit virus Blackberry
sehingga suka autis sendiri, sedangkan “ C ” meskipun asyik tapi terkadang
bawelnya suka kelewatan.
Nah makanya, kayanya kalo kita memiliki
pilihan rasanya sangat tidak terlalu berlebihan, bukan?
Mungkin ada banyak orang diluar sana yang memang hidupnya banyak memiliki pilihan. Itu sebabnya sering kali setiap lu ajak mereka pergi hang out, mereka selalu menjawab, “Nanti aku kabarin lagi yah..” karena mereka sedang menimbang-nimbang ingin pergi dengan siapa malam ini. Pergi nonton bareng lu,atau pergi karaoke dengan orang lain yang sudah mengajaknya sejak minggu lalu, atau mungkin pergi clubbing dengan teman sekantornya. Calm down, toh dunia ini tidak Tuhan ciptakan hanya seluas daun kelor bukan ??? Walaupun mungkin aga sedikit jengkel, tapi ya udah lah...'
Apabila mereka memiliki pilihan, Anda pun bisa memiliki pilihan…… so pilihlah org yang layak anda pilih.
_qN_